Rumah Adat Minangkabau
Rumah Adat Minangkabau

Banyak keunikan dan ciri khas dari rumah adat minangkabau, bahkan rumah adat ini dibangun dengan konstruksi anti gempa dan aman dari bencana alam.

Suku Minangkabau merupakan kelompok etnis yang memiliki wilayah terbesar di Sumatera. Rumah adat minangkabau atau banyak disebut Rumah Gadang merupakan rumah adat dari Sumatera Barat. Dimana warga setempat lebih mengenalnya sebagai Rumah Baanjuang atau Rumah Bagonjong.

Rumah gadang yang ada hingga sekarang ini masih dihuni dan diwariskan secara turun temurun. Uniknya, jika biasanya pria yang mendominasi sebagai ahli waris, rumah adat dari Padang ini diwariskan pada perempuan. Bahkan banyak ketentuan yang menguntungkan wanita daripada pria.

Keunikan Rumah Adat Minangkabau

Penasaran bukan, kenapa wanita mendominasi dalam Rumah Gadang? Ternyata bukan itu saja, masih banyak lagi keunikan dari tampilan hingga fungsi dari rumah adat itu sendiri. Bukan sekadar menghormati leluhur namun banyak nilai baik yang patut dilestarikan generasi penerus.

Bentuk Atap Melambangkan Kemenangan

Salah satu keunikan rumah adat minangkabau adalah bentuk atapnya. Ini bukan hanya memperhatikan nilai estetika dan seni saja, ternyata bentuk atap ini melambangkan tanda kemenangan. Bentuk atap seperti tanduk kerbau ini disebut juga Gonjong, dimana merupakan lambang kemenangan suku Minang di Pulau Jawa.

Dahulu kala ada perlombaan adu kerbau yang berlangsung di Jawa, dimana Suku Minang akhirnya keluar sebagai pemenangnya. Sebagai tanda kemenangan membuat atap seperti tanduk kerbau yang masih dilakukan hingga kini.

Dahulu di bagian atap masih dibentuk runcing menggunakan ijuk namun kini rumah adat modern lebih banyak menggunakan seng untuk melindungi genteng dan atap tidak mudah rusak.

Tiang Utama Berumur Sangat Panjang

Terdapat empat tiang utama yang jadi penyangga utama disebut juga tonggak tua. Sama halnya dengan rumah lainnya yang masih menggunakan kayu sebagai penyangga, namun keunikan ada pada usia kayu yang digunakan.

Kayu yang dipilih bukan sembarangan, melainkan kayu yang memiliki umur panjang. Hal ini dipilih karena memiliki kekuatan dan ketahanan akan rayap atau hama lainnya.

Proses pembuatan tonggak tuo cukup panjang, setelah mendapatkan kayu yang berumur tua harus direndam dalam kolam selama beberapa tahun. Tujuannya agar berumur panjang dan anti rayap.

Konstruksi Rumah Tanpa Paku

Pernah melihat rumah dibangun tanpa kayu, Rumah Gadang jadi buktinya. Rumah yang dibangun dengan dominasi material kayu ini menggunakan pancang dari kayu untuk penyambung setiap bagian. Sehingga membuat rumah adat minangkabau anti gempa.

Pasalnya rumah tanpa paku dan menggantikannya dengan pasak membuat setiap bagian menjadi lebih lentur dan lebih aman saat terjadi gempa atau bencana alam lainnya. Pasalnya dahulu sering terjadi gempa, sekalipun gempa berkekuatan besar, rumah hanya akan berayun dan tidak mudah retak.

BACA : 5 Rumah Adat Kalimantan dan Ciri Khasnya

Istana Pagaruyuang

Selain memiliki badan rumah dan tiang utama yang kokoh, Rumah Gadang juga mendapat sebutan Istana Pagaruyuang. Hal ini karena memiliki pondasi yang kokoh sehingga bisa mengatasi bencana gempa bumi. Padahal hanya mengandalkan perhitungan dari nenek moyang saja.

Sejak zaman dahulu, nenek moyang sudah mengalami banyak bencana alam salah satunya gempa bumi. Sehingga sedemikian rupa membuat perhitungan untuk merancang konstruksi rumah anti gempa yang dimulai dari pondasinya.

Hal ini terbukti, saat Sumatera diguncang gempa hingga 8 Skala Richter Rumah Gadang masih berdiri kokoh. Tidak terdapat kerusakan berarti, beberapa barang saja yang berserakan. Rumah masih berdiri kokoh dan dapat melindungi penghuninya yang berada di dalam rumah.

Bagian Luar Rumah Penuh Ukiran

Sama halnya rumah adat lainnya, Rumah Gadang juga memiliki banyak ukiran di bagian dinding. Terlihat mencolok dengan ukuran besar dan berwarna warni, inilah ciri khas rumah adat minangkabau sehingga terlihat lebih semarak dan mewah.

Motif ukiran yang digunakan berkaitan dengan alam, seperti binatang dan tumbuhan yang ada di sekitar. Bukan sekadar untuk dekorasi untuk mempermanis tampilan dari luar saja. Ternyata ukiran tersebut memiliki makna lain, dimana suku minangkabau ingin menunjukkan keselarasan dengan alam sekitar.

Kamar Tidur Hanya Untuk Wanita

Hal unik lainnya ditemukan dari jumlah kamar dan tempat tidur yang tersedia dalam Rumah Gadang. Jika umumnya kamar akan sejumlah penghuni rumah, namun jumlah kamar dan tempat tidur hanya menyesuaikan jumlah perempuan dalam rumah tersebut.

Misalkan dalam satu rumah terdapat 50 wanita, maka nantinya akan ada 50 tempat tidur atau kamar saja. Para pria akan tidur di bagian luar kamar, sedangkan setelah dewasa biasanya laki-laki minangkabau akan pergi merantau.

Rangkiang

Dalam adat Minangkabau, Rangkiang berarti lumbung padi. Ini memang gudang padi tempat menyimpan hasil bumi. Masyarakat minangkabau juga memiliki kebiasaan menyimpan bahan pokok untuk berjaga jika mengalami musibah atau bencana alam.

Rangkiang sendiri memiliki jenis lainnya. Misalkan Rangkiang Sitinjau Lauik, ini merupakan gudang penyimpanan beras upacara adat. Rangkiang Sibayau-bayau dijadikan gudang beras khusus kebutuhan keluarga inti. Sedangkan Rangkiang Sitangka Lapa adalah gudang beras sumbangan ke desa miskin.

Inilah keistimewaan dari rumah adat minangkabau. Bukan hanya memberikan kebaikan untuk keluarga saja, namun memikirkan suku lainnya. Anda bahkan bisa mengunjungi Rumah Gadang dan berinteraksi langsung dengan salah satu pemiliknya, kalau tidak silahkan datang ke museum untuk melihat langsung keindahannya.

BACA : Rumah Adat Kalimantan Timur: Bentuk, Filosofi, dan Ciri Khas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here