Rumah Adat Kalimantan Barat
Rumah Adat Kalimantan Barat

Inilah 4 jenis rumah adat Kalimantan Barat dengan tampilannya yang mengesankan dan falsafah kearifan lokal yang terkandung di dalamnya.

Setiap provinsi di Indonesia mempunyai adat-istiadat dan budaya yang berbeda-beda dengan keindahan dan keunikannya masing-masing. Ini termasuk provinsi yang dijuluki Seribu Sungai, Kalimantan Barat. Salah satu produk budayanya yang sangat mengesankan adalah rumah adat Kalimantan Barat.

Tidak hanya satu, Kalimantan Barat bahkan memiliki empat macam rumah adat tradisional.

4 Rumah Tradisional Kalimantan Barat

Penasaran apa saja jenis rumah tradisional masyarakat Dayak di Provinsi Kalimantan Barat? Simak ulasannya!

Rumah Adat Mandiangin

Rumah tradisional ini adalah budaya khas suku Dayak Pesaguan yang bermukim di dusun Titi Buluh, Kecamatan Tumbang Titi. Hampir seluruh bagian bangunan dibuat dari kayu ulin yang dikenal sangat kuat dan sanggup bertahan di segala cuaca.

Pada dindingnya dihiasi relief yang indah dengan menerapkan warna-warna alam yang meriah. Rumah panggung ini didirikan pada ketinggian 1 meter di atas permukaan tanah.

Rumah Adat Melayu

Nama rumah adat Kalimantan memang sama dengan rumah adat masyarakat Riau. Satu rumah Melayu yang ada di kota Pontianak saat ini menjadi pusat kebudayaan Melayu sekaligus obyek wisata yang banyak dikunjungi. Yang unik dari bangunan ini adalah atapnya segitiganya yang merupakan wujud akulturasi dengan arsitektur Jawa. Rumah Melayu juga berbentuk rumah panggung untuk mengantisipasi bencana banjir.

Rumah Adat Baluk

Dari gambar rumah adat Kalimantan Barat Baluk di internet, kita dapat menilai jika corak bangunannya berbeda dengan rumah adat yang lain. Yang pertama kali mendirikan bangunan ini adalah masyarakat Dayak Bidayuh. Alih-alih ditinggali, rumah ini berfungsi sebagai tempat menggelar ritual pasca panen dan menjelang musim bertanam periode berikutnya.

Rumah tradisional ini dibangun pada ketinggian 12 m dari permukaan tanah dengan desain bulat serta diameter sekitar 10 m. Pondasinya berupa 20 tiang kayu panjang dan kokoh sebagai penopang rumah.

Baca : Kearifan Lokal di Balik Kemegahan Rumah Adat Padang

Alasan rumah Baluk ini dibangun pada ketinggian adalah sebagai bentuk penghormatan kepada Kamang Triyuh (Tariu) atau roh-roh leluhur. Di dalam rumah Baluk juga disimpan pusaka serta benda-benda keperluan ritual.

Anda bisa menyaksikan rumah Baluk asli di kampung Sebujit, Hli Buei, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.

Rumah Panjang (Betang Radakng)

Mungkin inilah rumah tradisional Kalimantan Barat yang paling populer. Apalagi di tahun 2018, replika rumah Panjang di kota Pontianak berhasil meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Raihan tersebut adalah pada kategori rumah adat terbesar di Tanah Air.

Masyarakat Dayak menyebut rumah tradisional ini sebagai Betang Radakng dan didesain untuk ditinggali hingga 600 orang yang terdiri dari beberapa keluarga. Ini karena suku Dayak mempunyai kultur kekerabatan yang sangat kuat.

Luas rumah Panjang bisa mencapai hingga 150 m dan dibangun sebagai rumah panggung setinggi 7 m dari permukaan tanah untuk menghindari banjir. Rumah Betang umumnya ditinggali secara turun-temurun sehingga usianya kebanyakan sudah mencapai puluhan bahkan ratusan tahun.

Jika Anda ingin menyaksikan rumah Panjang yang masih difungsikan sebagai hunian, Anda bisa berkunjung ke Bukit Kelam, Kabupaten Sintang. Rumah adat ini disebut Betang Ensaid yang berukuran panjang mencapai 118 m, lebar 17 m, dan ketinggiannya 2 m.

Ada 22 kepala keluarga yang tinggal di tempat ini dan sebagian penghuninya membuat kerajinan tangan untuk dijual kepada wisatawan.

Nilai-Nilai Filosofi Rumah Adat Panjang Kalimantan Barat 

Keunikan rumah adat Kalimantan Barat tidak hanya tergambar pada desain bangunannya, tetapi juga nilai yang terkandung di dalamnya. Leluhur masyarakat Dayak sengaja merancang rumah untuk ditinggali bersama-sama sebagai gambaran persatuan dan toleransi seluruh anggota keluarga.

Rumah Betang Radakng selalu dibangun menghadap ke arah matahari terbit, sementara bagian ujung bangunan menghadap ke barat. Hal ini adalah cerminan mata pencaharian masyarakat Dayak sebagai petani. Mereka biasanya berangkat ke ladang di saat fajar dan kembali ke rumah saat matahari terbenam.

Rumah-rumah tradisional Kalimantan Barat wajib dilengkapi hiasan patung seukuran orang dewasa yang terbuat dari kayu ulin. Patung tersebut dipercaya sebagai perwujudan roh nenek moyang yang dapat menjaga seluruh penghuni rumah dari berbagai bahaya.

Baca : Mengenal Rumah Adat Riau dan Keunikannya

Patung leluhur itu juga dipercaya dapat mengantar siapapun anggota keluarga yang telah berpulang untuk menuju surga.

Bagian dapur rumah wajib menghadap ke sungai sebagai pengharapan kesejahteraan hidup bagi penghuninya. Aliran air sungai yang tak ada habisnya adalah gambaran rejeki berlimpah bagi masyarakat Dayak.

Dahulu rumah Panjang berfungsi sebagai benteng perlindungan saat terjadi pertempuran antar suku serta dari ancaman hewan buas. Setelah perang tidak ada lagi, bangunan tersebut mulai difungsikan sebagai tempat tinggal dan untuk menggelar ritual tradisional misalnya upacara adat.

Nah, demikianlah informasi tentang jenis-jenis rumah adat Kalimantan Barat untuk menambah wawasan Anda. Jika berkesempatan mengunjungi Provinsi Seribu Sungai ini, jangan lewatkan untuk singgah dan menyaksikan dari dekat kemegahan dan keunikan rumah-rumah adat tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here