Rumah adat padang
Rumah adat padang

Rumah adat Padang ternyata tidak hanya sekedar besar dan megah tetapi juga menyimpan makna filosofi kearifan lokal warisan para leluhur.

Saat mendengar kata Padang apa yang terlintas di benak Anda? Biasanya orang akan langsung teringat pada kulinernya yang pedas serta rumah adat Padang yang megah. Tak hanya memiliki hidangan tradisional yang lezat, rumah adat tradisional orang Minang pun tampak mengesankan.

Padahal material bangunannya didominasi oleh bahan-bahan alam seperti kayu, bambu, dan ijuk kelapa. Tak hanya sekedar rumah adat, hampir pada seluruh bagian bangunan tersebut terkandung falsafah kearifan lokal masyarakat Padang. 

Mengenal Jenis-jenis Rumah Adat Tradisional Padang

Kebanyakan orang mengenal rumah tradisional Padang sebagai rumah Gadang, tetapi tahukah Anda jika rumah Gadang mempunyai jenisnya masing-masing? Selain rumah Gadang ada pula rumah Gonjong yang juga terdiri dari beberapa jenis. Inilah rangkumannya.

Rumah Gadang

Rumah Gadang

Ciri khas rumah adat Padang ini adalah bentuk atapnya yang seperti tanduk kerbau. Ada dua versi, mengapa rumah tradisional ini dirancang demikian. Versi pertama adalah sebagai ungkapan kebahagiaan karena Raja berhasil memenangkan adu kerbau yang digelar di tanah Jawa.

Sementara versi kedua adalah, desain atap rumah adat itu terinspirasi dari kapal Lancang yang berlabuh di tepi Sungai Kampar. Biasanya awak akan memberi atap tambahan berupa tiang layar yang diikat tali.

Karena menahan beban yang berat tiang layar kapal seringkali jadi melengkung. Bentukan itulah yang mengilhami orang membuat atap runcing yang disebut gonjong.

Rumah Gadang Gajah Maharam

Rumah adat ini adalah yang paling megah pada zamannya dengan 5 buang gonjong di atap. Bangunan ini didirikan dengan pakem-pakem tertentu, yaitu harus dibangun menghadap utara,di bagian selatan wajib ditutup sasak, dan dindingnya terletak di sisi timur serta barat.

Rumah Gadang Gonjong Limo

Penamaan rumah adat ini terinspirasi oleh salah satu kawasan di kota Padang, yaitu Luhak Limo. Ciri khas bangunan adalah ada tambahan gonjong kecil di bagian kanan dan kiri. Rumah Gonjong Limo mempunyai banyak ruangan dengan fungsi masing-masing yang spesifik.

Rumah Gadang Batingkek

Rumah ini didesain mirip dengan model Gajah Maharam, namun mempunyai perbedaan di bagian atapnya yang mempunyai 4 gonjong. Sesuai makna rumah Gadang Batingkek, bangunannya ini pun dibuat bertingkat.

Rumah Gadang Surambi Papek

Rumah adat model Surambi Papek hingga kini banyak dijumpai di kawasan Bukittinggi dan Koto Marapak. Yang unik dari rumah ini adalah peletakan pintunya. Jika pintu rumah berada di belakang, artinya si Pemilik adalah wanita.

Masyarakat Bukittinggi dan Koto Marapak yang mempunyai anak perempuan, jika kelak menikah menantu laki-laki diperbolehkan tinggal menumpang di rumah utama.

Baca : Mengenal Rumah Adat Riau dan Keunikannya

Rumah Adat Gonjong Anam

Sekilas orang mungkin mengira rumah adat ini sebagai rumah Gadang Gajah Maharam. Padahal jika diperhatikan lebih teliti hiasan ukiran di bagian dindingnya terlihat lebih variatif dan modern.

Salangko, atau dinding bawah rumah juga mulai menggunakan bahan papan daripada anyaman bambu yang menjadi pakem rumah-rumah Padang tradisional lainnya. Rumah Gonjong Anam selalu memiliki banyak jendela untuk penerangan alami.

Rumah Gonjong Sibak Baju

Sesuai namanya, keunikan rumah adat Padang ini adalah bentuknya yang seperti belahan baju, atau menyibak baju. Rumah Gonjong Sibak Baju berbentuk paling lebar dibandingkan model rumah gonjong lainnya.

Rumah Gonjong Ampek Baanjuang

Rumah ini dilarang didirikan di tempat lain selain di Luhak Nan Tuo, Padang saja. Bagian atapnya terdiri dari 4 buah gonjong dan wajib mempunyai minimal 7 ruangan.

Unsur Alam Dalam Filosofi Rumah Adat Tradisional Gadang

“Alam Takambang Jadi Guru” adalah filosofi hidup masyarakat Minangkabau yang melibatkan alam sebagai guru dalam seluruh aspek kehidupannya. Ini termasuk saat mereka mendirikan hunian.

  • Atap

Atap rumah tradisional Padang bentuknya selalu lancip seperti tanduk kerbau dan dibuat dari jalinan ijuk. Ada pula yang mengartikan bentuk tersebut sebagai susunan daun sirih atau Siriah Basusun.

Sebagaimana daun sirih yang wajib hadir pada setiap gelaran ritual tradisional, rumah Gadang juga diharapkan menjadi sarana penyambung silaturahmi antar kerabat.

  • Bangunan

Masyarakat Padang mengibaratkan rumah sebagai kapal tempat berlindung dari badai saat melayari laut kehidupan. Hal ini tercermin pada bentuk rancangannya yang megah dan besar. Rumah adat Minang dibangung dengan bahan-bahan dari alam dan untuk menyambungkan bagian-bagiannya digunakan pasak, tanpa paku sama sekali.

Teknologi warisan para leluhur ini terbukti membuat hunian lebih tahan gempa. Ini karena pasak memungkinkan bangunan bergerak mengikuti guncangan gempa untuk mencegah bangunan roboh.

  • Hiasan

Untuk membuat huniannya tampak indah, masyarakat Minang mengukir dinding rumah dengan motif-motif alam. Dua corak yang paling populer adalah itiak pulang patang dan kaluak paku.

Itiak pulang patang artinya itik pulang sore, yaitu corak yang terinspirasi barisan unggas berbaris melintasi pematang sawah.Sementara kaluak paku adalah motif yang berbentuk sulur-suluran seperti tumbuhan pakis hutan.

Warna-warna yang umum digunakan adalah kuning, hitam, dan merah dengan warna dasar hijau sebagai perlambang keharmonisan hidup masyarakat dengan alam.

  • Rangkiang

Rangkiang adalah bangunan kecil dan ramping bertingkat dengan atap gonjong yang biasanya dibangun di halaman. Fungsinya adalah untuk menyimpan padi sebagai persediaan bahan pangan di masa paceklik. Nah, semoga informasi tentang rumah adat Padang ini dapat menambah wawasan Anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here